Rabu, 16 September 2009

TADABBUR AYAT QS. AL-A'RAF:199

TADABBUR AYAT QS. AL-A'RAF:199

"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil" (QS. Al-A'raf:199)
Menurut Yusuf Qardhawy dalam bukunya Al-Qur'an berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, ada 4 bentuk kejahilan menurut Al-Qur'an, antara lain :
1. Main-main dalam situasi serius
2. Mengutamakan emosi ketimbang akal
3. Kejumudan atas pikiran-pikiran sesat dan perilaku menyimpang
4. Maksiat kepada Allah adalah indikasi kejahilan

Main-main dalam situasi serius
Sebagaimana kisah Nabi Musa kepada kaumnya dalam QS. Al-Baqarah:67, yang artinya :
"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina." Mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil."
Surat ini dinamai surat Al Baqarah (sapi betina) karena mengandung kisah penyembelihan sapi, yang mana Allah menyuruh kaum Nabi Musa menyembelih sapi ialah supaya hilang rasa penghormatan mereka terhadap sapi yang pernah mereka sembah. Kalimat perintah dalam ayat di atas, diberi penekanan (ta'kid) "Sesungguhnya Allah menyuruhmu....." tetapi Bani Israil justeru menganggap perintah Nabi Musa itu main-main dan padahal itu adalah perintah Allah. Inilah kejahilan Bani Israil, yakni mereka bermain-main dalam situasi serius.

Mengutamakan emosi ketimbang akal
Sebagaimana kisah Nabi Nuh terhadap anaknya, yang diceritakan pada QS. Huud:45-47, yang artinya :
"Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya." Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya, perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi."
Disinilah jiwa kebapakan Nabi Nuh muncul sehingga ia lebih mendahulukan emosi daripada akal, dimana telah dijelaskan bahwa Allah menggolongkan anaknya tidak termasuk golongan yang diselamatkan. Maka, setelah firman di atas, Nabi Nuh memohon ampun atas perbuatannya. Menurut pendapat sebagian ahli tafsir bahwa yang dimaksud dengan perbuatannya, ialah permohonan Nabi Nuh a.s. agar anaknya dilepaskan dari bahaya. Ayat tersebut menunjukkan kepada Nabi Nuh, agar tidak termasuk orang-orang yang jahil.

Kejumudan atas pikiran-pikiran sesat dan perilaku menyimpang
1. Kisah Nabi Nuh dan kaumnya ketika kaumnya mengusir kaum yang fakir lantaran mereka tidak mau disamakan derajatnya dengan orang-orang fakir, padahal yang membedakan derajat manusia disisi Allah hanyalah ketakwaan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Huud:29, yang artinya :
"Dan (dia berkata): "Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui."
2. Kisah Nabi Luth dan kaumnya yang tidak mau mendatangi wanita, dan jahilnya lagi mereka menganggap perbuatan kotornya adalah perbuatan suci. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Naml:55, yang artinya :
"Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)"
3. Kisah Nabi Hud dan kaumnya yang minta untuk disegerakan azab Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Ahqaf:22-23, yang artinya :
Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." Ia berkata: "Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh."
4. Kisah Nabi Musa dan kaumnya yang meminta dibuatkan berhala sebagai Tuhan. Inilah kejahilan kaum Nabi Musa, belum kering baju mereka dari Laut Merah setelah Allah selamatkannya dari kejaran Fir'aun, mereka meminta Nabi Musa untuk dibuatkan berhala sebagai Tuhan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A'raf:138-139, yang artinya :
"Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu[562], maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: "Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)." Musa menjawab: "Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)." Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan"
5. Kisah Nabi Muhammad dan kaum musyrikin yang keras kepala untuk diajak masuk Islam. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-An'am:111, yang artinya :
"Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka[498], niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui"

Maksiat kepada Allah adalah indikasi kejahilan
Maksiat kepada Allah adalah indikasi kejahilan karena ia jahil akan kedudukan Allah, ia jahil akan perkara akhirat, ia lebih mengutamakan kelezatan sementara di dunia dibandingkan kelezatan abadi di akhirat, dan ia lebih mengutamakan keuntungan pribadi daripada hak Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa':17, yang artinya :
"Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".
Maksudnya kejahilan diatas ialah:
1. Orang yang berbuat maksiat dengan tidak mengetahui bahwa perbuatan itu adalah maksiat kecuali jika dipikirkan lebih dahulu.
2. Orang yang durhaka kepada Allah baik dengan sengaja atau tidak.
3. Orang yang melakukan kejahatan karena kurang kesadaran lantaran sangat marah atau karena dorongan hawa nafsu.
A Khalil bin Ahmad berkata, manusia ada 4 macam, diantaranya adalah:
1. Orang yang tahu dan tahu bahwa ia tahu, ia adalah orang yang alim maka ikutilah dia.
2. Orang yang tahu dan tidak tahu bahwa ia tahu, dia sedang tidur maka bangunkan dia.
3. Orang yang tidak tahu dan tahu bahwa ia tidak tahu, ia adalah orang jahil maka ajrilah dia.
4. Orang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa ia tidak tahu, inilah orang yang sesat maka tolaklah dia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar